Sabtu, 10 November 2012

Naskah Drama Jayaprana dan Layonsari



Kisah Cinta Tragis Jayaprana dengan Layonsari

Pada jaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan kecil di daerah utara pulau Bali. Kerajaan itu bernama kerajaan Wanekeling Kalianget. Di kerajaan itu, hiduplah satu keluarga sederhana, terdiri dari suami istri serta dua anaknya, satu orang laki-laki dan seorang wanita. Kerajaan itu terkena sebuah wabah yang menyebabkan banyak warganya meninggal, baik dari kalangan kerajaan maupun rakyat biasa. Keluarga sederhana itu pun ikut terkena wabah, empat anggota keluarganya meninggal dan menyisakan si bungsu, I Nyoman Jayaprana.

Jayaprana        : ibu... bapak... jangan tinggalkan saya. Saya tidak bisa hidup sendirian....
                        ( sambil menangis)
           
Beberapa hari kemudian, Raja Kalianget memutuskan untuk mengunjungi rakyatnya. saat melakukan kunjungan, Raja merasa tertarik dengan Jayaprana yang pada saat itu tengah menangisi kematian kedua orang tua dan kedua saudaranya. Raja merasa iba dan teringat dengan mendiang anaknya hingga membuatnya ingin menjadikan Jayaprana sebagai anak angkat.

Raja kalianget : pengawal antarkan aku mengunjungi rakyat aku ingin melihat keadaan rakyatku setelah wabah yang menyerang kerajaan dan rakyatku.
Pengawal 1&2 : baik baginda. Hamba akan mengantarkan baginda melihat keadaan rakyat.
Raja kalianget : sungguh kasihan anak ini,,, dia mengingatkan aku pada anakku yang meninggal karena wabah penyakit itu. Sebaiknya aku angkat saja anak ini sebagai putraku,,,
                        Heii anak kecil,,, siapa namamu,,,??? Jangan tangisi kematian orang tuamu... mari ikut aku ke kerajaanku,,, aku akan mengangkat kamu sebagai anakku.
Jayaprana        tapi baginda,,, bagaimana nasib jasad orangtua hamba???
Raja kalianget : kamu tidak perlu khawatir,,, nanti pengawal-pengawalku akan mengurus semuanya,,,, muali sekarang ikutlah ke istana dan jangan panggil aku baginda,,, panggil aku,, ayahanda.
Jayaprana        : baik ayahanda.


10 tahun kemudian, jayaprana tumbuh dewasa. Jayaprana tumbuh menjadi seorang pemuda tampan yang lihai bertarung. banyak gadis yang diam-diam memendam perasaan pada Jayaprana. Melihat itu, lantas Raja memerintahkan Jayaprana memilih dayang-dayang istana atau gadis di luar istana untuk dijadikan pendamping.

Raja kalianget : pengawal, panggilkan Jayaprana mengahadapku!
Pengawal 1&2 : baik baginda raja. (pergi memanggil jayaprana dan dibawa menghadap ratu)
Jayaprana        : sembah sujudku ayahanda. Ada apakah ayahanda memanggilku?
Raja kalianget : begini jayaprana, kau adalah sosok seorang lelaki yang tampan dan gagah. Wajarlah, jika para dayang-dayang disini menyukaimu. Dan ku rasa, sudah saatnya kau untuk menikah. Jika kau tidak keberatan, pilihlah salah satu dari mereka, lalu jadikanlah istrimu.
Jayaprana        : maaf ayahanda, saya bukan bermaksud untuk menolak tawaran dari ayahanda. Hamba hanya ingin menikah, tapi bukan dengan dayang-dayang istana (diam sejenak) dengan penuh hormat jika diperkenankan, izinkanlah hamba untuk mencari calon istri hamba diluar istana.
Raja kalianget : baiklah jayaprana, jika itu yang kau inginkan, aku pun tidak akan menghalangimu untuk memilih calon istri yang sesuai dengan pilihan hatimu.
Jayaprana        : terimakasih ayahanda, saya mohon diri untuk mencari udara segar diluar istana.

Jayaprana pun keluar dari istana. Sambil berjalan, jayaprana dengan asiknya BBM’an...
Dari arah yang berlawanan, datanglah layonsari yang berjalan sambil sibuk baca buku. Tanpa mereka sadari, akhirnya mereka bertabrakan.
Layonsari        : brakkk! (terjatuh di tanah bersama gadis cantik itu)
Jayaprana        : maaf-maaf. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya sedang buru-buru (menatap                   layonsari)
Layonsari        : (tersenyum)..iya tidak apa-apa, kok.
Jayaprana        : siapa namamu gadis cantik?
Layonsari        : nama saya Layonsari, dan siapa namamu dan dari mana kau berasal? Sepertinya saya tidak pernah melihatmu?
Jayaprana        : nama saya Jayaprana, saya dari kerajaan kalianget.
Layonsari        : oww.. yea... Baiklah,  kalau begitu saya permisi dulu.
Jayaprana         : mari, silahkan…

(jayaprana pun terpesona melihat kecantikan dan keramahan layonsai. Ia jatuh hati kepadanya. Setelah pulang dan mencari udara segar, jayaprana memberitahu Raja Kalianget bahwa ia telah menemukan calon istrinya)

Jayaprana        : dengan penuh rasa hormat ayahanda. Saya ingin menyampaikan bahwa saya telah menemukan calon istri saya.
Raja kalianget : dari desa mana dia berasal?
Jayaprana        : ia berasal dari desa Banjar Sekar, ia putri dari bapak Jero Bandesa.
Raja kalianget : baiklah kalau begitu. (menulis surat). Pengawal, berikan surat ini kepada Jero Bandesa di desa Banjar Sekar.
Pengawal 1&2 : baik baginda raja.

Raja kalianget : jayaprana, surat itu berisi undangan untuk menghadap kepadaku. Jadi hendaklah kau bersiap-siap.
Jayaprana        : baik ayahanda.

 (malam harinya , kelurga layonsari datang ke kerajaan Kalianget)
Pegawal 1        : apakah kalian keluarga bapak Jero Bandesa?
Ibu Layonsari  : benar. Kami adalah keluarga Jero Bandesa.
Pengawal 1      : kalau begitu, silahkan masuk.
(keluarga layonsari masuk kedalam istana dan bertemu Raja Kalianget)

Raja kalianget : (menatap layonsari dan terpesona) silahkan duduk...!
Layonsari        : terimakasih baginda Raja.
Bapak Layonsari:maaf baginda raja, jika kami boleh tahu, ada maksud apakah kami diundang kemari?
Raja kalianget : begini, anak saya Jayaprana terpikat oleh keramahan dan kecantikan anak bapak. Saya sebagai ayahandanya, ingin sekali menikahkan putra saya dengan putri bapak.
Bapak Layonsari :  untuk persoalan itu , saya serahkan kepada putri saya.
Layonsari        : baiklah, saya pun menaruh hati kepada putra baginda. Ia adalah sosok lelaki yang ramah dan tidak sombong.
Raja kalianget : kalau begitu, esok hari akan ku laksanakn pernikahan kalian. Untuk kelancarannya, silahkan kalian menginap dan beristirahat disini. Pengawal…
Pengawal 1&2 : ada apa baginda raja memanggil kami?
Raja kalianget : antarkan keluarga ini ke kamar peristirahatan mereka.
Pengawal 1&2 : baik baginda raja. (mengantarkan keluarga layonsari ke kamar                                          istirahatnya)
Raja kalianget : dan kau Jayaprana, silahkan kau menuju kamarmu untuk beristirahat agar besok pernikahanmu berjalan lancar.
Jayaprana        : baik ayahanda. (pergi ke kamarnya)

            Keesokan harinya, Tibalah hari  upacara perkawinan Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak meminang Layonsari. Di Istana, Raja sedang duduk di atas singgasana, dihadapnya ada para pegawai raja dan juga para perbekel. Kemudian datanglah rombongan Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu lantas turun dari atas motor, langsung menyembah kehadapan Raja dengan hormatnya. Raja terpesona dengan kecantikan Layonsari hingga tak mampu berkata-kata.

Jayaprana        : sembah sujudku ayahanda. Saya ingin meminta doa restu untuk menikahi layonsari, perempuan yang saya sangat cintai.
Raja kalianget : aku restui pernikahan kalian.
dengan ini, aku sahkan kalian menjadi pasangan suami istri yang berbahagia.. (menyatukan tangan Jayaprana dan Layonsari)


Raja telah sekian lama menduda, diam-diam tumbuh benih cinta di hati Raja pada Layonsari. Rasa cintanya pada Layonsari membutakan akal sehat Raja yang sebelumnya dikenal sangat bijaksana. Raja pun memikirkan stategi untuk membunuh Jayaprana agar dapat memperistri Layonsari. Strategi itu disampaikan Raja kepada patih kerajaan bernama Sawung Galing melalui SMS.

Raja kalianget : patih,, bagaimana caranya membunuh jayaprana agar aku bisa memperistri layonsari???
Sawung galing            : tapi baginda, dia kan putra baginda.... kenapa baginda tega membunuh putra baginda sendiri??
Raja kalianget : jangan banyak omong kamu patih,,, laksanakan saja perintahku,,,!!!
Sawung galih  : baiklah baginda...
Raja kalianget : patih perintahkan jayaprana meminpin rombongan untuk pergi ke perbatasan istana Teluk Terima untuk menyelidiki kekacauan disana. Dan berikan SMS ini kepada Jayaprana. Karena dia pasti tidak akan menolak jika aku yang memerintahkan.
Sawung galing            : baiklah baginda,, hamba akan melakukan apa yang baginda perintahkan....

1 minggu kemudian setelah pernikahan jayaprana dengan layonsari, datanglah utusan kerajaan ke rumah Jayaprana yang menyampaikan titah Raja agar Jayaprana menghadap Raja secepatnya. Jayaprana diperintahkan memimpin rombongan bersama Patih Sawung Galing pergi ke Teluktrima untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo yang menembak binatang di kawasan Pengulon.

Keesokan harinya, Jayaprana bersama Sawung galing berangkat ke Teluktrima. Sesampainya di hutan Teluktrima dengan galaunya patih Sawung Galing menyerang Jayaprana, namun ilmu Jayaprana lebih sakti dari patih Sawung Galing hingga tidak mampu mengalahkan Jayaprana. Ditengah kebingungannya, Jayaprana bertanya pada patih Sawung Galing.
Jayaprana        : patih, mengapa patih ingin membunuhku???
Sawung galing            : maafkan aku Jayaprana,,, ini perintah dari Baginda Raja... mau tidak mau aku harus melakukanya. Kemarin aku d SMS oleh Baginda raja... ini lihatlah isi SMS’nya Baginda raja...

Hai engkau Jayaprana 
Manusia tiada berguna 
Berjalan berjalanlah engkau 
Akulah menyuruh membunuh kau 
Dosamu sangat besar 
Kau melampaui tingkah raja 
Istrimu sungguh milik orang besar 
Ku ambil kujadikan istri raja
Serahkanlah jiwamu sekarang 
Jangan engkau melawan 
Layonsari jangan kau kenang 
Kuperistri hingga akhir jaman.
Jayaprana menangis sesegukan membaca surat tersebut,
Jayaprana        : "Lakukanlah patih, bila ini memang titah Raja, saya siap dicabut nyawanya demi kepentingan Raja, dahulu Beliaulah yang merawat dan membesarkan saya, kini Beliau pula yang ingin mencabut nyawa saya"
Dalam dukanya Jayaprana menyerahkan keris sakti miliknya sebagai satu-satunya senjata yang dapat digunakan untuk membunuh Jayaprana.
Jayaprana        : patih,, jika saya sudah mati,, berikan keris ini dan beritakan pada layonsari akan kematian saya. Ini sebagai bukti kesetiaanku pada titah raja.

Setelah menerima keris itu, dengan mudah patih Sawung Galing membunuh Jayaprana dengan berat hati. Darah menyembur namun tidak tercium bau amis, malahan wangi semerbak. Setelah mayat Jayaprana itu dikubur, maka seluruh rombongan kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka mendapat bahaya, diantaranya banyak yang mati. Seekor macan putih juga tiba-tiba menyerang patih Sawung Galing dan menewaskan sang patih.

Kabar tewasnya Jayaprana pun sampai ke telinga Raja. Dengan terpongoh-pongoh Raja segera menghampiri Layonsari di rumahnya.
Raja kalianget : layonsari, suami’mu Jayaprana sudah tewas. Jadi sekarang aku bisa menjadikan’mu istri.
Layonsari        : aku tidak percaya suamiku mati...
Raja kalianget : lihat ini... ini keris milik Jayaprana yang sudah berisi darahnya...
Layonsari        : aku tidak percaya suamiku mati.... .( menangisi kematian suaminya )
           
Dalam tangisnya Layonsari merebut keris milik Jayaprana kemudian menusukkan ke jantungnya sendiri. Layonsari tewas seketika dan dari jasadnya tersebut mengeluarkan aroma wewangian yang menyerbak keseluruh wilayah kerajaan bahkan tercium hingga lokasi jasad Jayaprana berada.
Rakyat sekitar membawa jasad yang mewangi tersebut untuk ditempatkan disebelah jasad Jayaprana agar selamanya kedua kekasih ini dapat selalu bersama. Sedangkan patih Sawung Galing yang dengan setianya menjalankan titah raja turut serta ditempatkan dilokasi tersebut sebagai simbol kesetian seorang abdi.



TAMAT





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar